Rabu, 27 Maret 2013

Apa Penyebab Longsor di Cililin Bandung yang Tewaskan 10 Orang ?



foto: evakuasi korban longsor cililin

Berdasarkan peta bahaya longsor, di Desa Mukapayung termasuk dalam zona bahaya tinggi. Longsor. Beberapa kejadian longsor di derah tersebut pernah terjadi, seperti pada tahun 2001, 2009, dan 2012.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaparkan sejumlah penyebab longsor yang membuat puluhan warga Nagrok kini mengungsi. Penyebab utama longsor adalah curah hujan dan pengaruh aktivitas manusia. Permukiman dibangun di bawah lereng perbukitan dengan kemiringan curam hingga sangat curah, yaitu berkisar antara 40-60 derajat.

"Sebagian besar perbukitan dibudidayakan menjadi lahan pertanian tanaman semusim. Nyaris tidak ada hutan sama sekali. Hutan telah dikonversi menjadi lahan pertanian. Pengolahan tanaman semusim menyebabkan tanah menjadi gembur dan air mudah meresap ke tanah," papar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya, Selasa (26/3/2013).

Seperti halnya kejadian longsor di tempat lain, terjadinya sumbatan saluran atau genangan air di bagian atas bukit menjadi pemicu longsor. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Lapisan tanah menjadi jenuh dan di bagian tanah keras atau batuan menjadi bidang peluncur sehingga longsor dan menghantam rumah-rumah yang dibangun di bawah bukit.

"Tanaman keras yang ditanam di perbukitan umumnya adalah tanaman yang bukan berakar panjang sehingga menambah beban dari struktur tanah," kata Sutopo.

Sutopo mengatakan berdasarkan laporan masyarakat dan aparat di Kecamatan Cililin pada 26 Februari 2013, dirasakan gempa yang bersumber dari gempa 5,3 SR yang berpusat di darat di baratdaya Cianjur dan dirasakan hingga di Bandung. Kondisi ini dapat memberikan pengaruh terhadap berkurangnya kekuatan struktur tanah atau terjadi retakan tanah yang kemudian terisi air saat hujan sehingga memicu longsor.

Di Indonesia, lanjut Sutopo, terdapat 124 juta jiwa masyarakat yang di daerah rawan longsor sedang hingga tinggi yang tersebar di 270 kabupaten/kota. Artinya ada 124 juta jiwa yang berdiam seperti mirip di Cililin tersebut.

"Apakah semua juga harus direlokasi? Tentu tidak. Yang diperlukan adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan antisipasi dan proteksi terhadap longsor. Mereka memiliki kemampuan mengantisipasi seperti saat terjadi hujan deras bersiap atau mencari tempat yang aman dari ancaman longsor. Memiliki kemampuan dengan membangun konservasi tanah dan air, seperti menanam pohon berakar panjang yang sejajar kontur, terasering, saluran searah lereng dan sebagainya," ungkapnya.

"Sosialiasi diintensifkan dan lingkungan ditingkatkan kelestariannya. Pembangunan ekonomi masyarakat yang berbasis lingkungan dengan penanaman tanaman keras yang memiliki ekonomi tinggi perlu ditingkatkan. Agroforestri dapat menjadi model pengembangan bgi daerah-daerah rawan longsor," tutupnya. (asf)
Hujan deras yang terjadi pada Senin (25/3) menyebabkan longsor di Kampung Nagrok, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Longsor tersebut mengakibatkan 10 korban tewas dan 7 lainnya hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar