Senin, 11 Agustus 2014

Kontras; "Hendropriyono Penasehat Tim Transisi Adalah Pelaku Kejahatan Talangsari 1989"

ANDIKABAR  - JAKARTA - Komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan (Kontras) menyayangkan presiden terpilih, Joko Widodo, yang mengangkat mantan kepala BIN, Letjen (Pur) AM Hendropriyono, sebagai penasihat tim transisi. Hal ini dinilai sebagai pengabaian terhadap semangat penegakkan HAM dalam pemerintahan yang baru akan dibangun.

Koordinator Kontras, Haris Azhar, menyatakan hal ini sebagai keprihatinan  akan tindakan Joko Widodo setelah ketetapan KPU. "Joko Widodo sepatutnya paham dengan sejumlah kejahatan kemanusiaan di Indonesia dimana salah kasusnya adalah Talangsari 1989 atau pelakunya adalah Hendropriyono," imbuh Haris, kepada Republika, Ahad (10/8).

Menurutnya, Hendro adalah orang yang bertanggungjawab dalam pembantaian Talangsari. Demikian pula dengan kasus pembunuhan Munir yang dilakukan oleh agen BIN saat masa Hendropriyono. Sepatutnya, Joko Widodo menyusun agenda transisi salah satunya soal penanganan keadilan bagi korban - korban pelanggaran HAM, bukan bersiasat kuasa dengan pelaku pelanggar HAM.

Pihaknya juga mempertanyakan apa agenda transisi antara SBY dengan Joko Widodo. "Apa yang dijadkan agenda transisi? Apa ukuran dan cara penyusunan prioritasnya? Kenapa RPJM dijadikan rujukan? Lalu apa pentingnya Hendro ada dalam tim tersebut?" tanya Haris.

Agenda kerja antara Presiden SBY dengan pihak Joko Widodo diduganya hanya upaya perluasan kuasa baik dari pihak Joko Widodo maupun SBY. Jokowi butuh kekuatan lebih dari SBY untuk hadapi oposisi dan SBY sendiri melihat peluang masuk dalam pemerintahan dari Joko. "Hendro saya duga sebagai penghubung komunikasi antara Joko dan SBY. Pantas saja kasus Munir dan Talangsari tidak ada progres," imbuhnya.(intriknews)
Share

Hasil Pilpres Turki: Erdogan Menang!

ANDIKABAR -  ISTANBUL - Perhitungan Dewan Pemilihan Agung (Supreme Election Board/KPU) Turki, menunjukkan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan memenangkan pemilu pertama kalinya presiden secara langsung. Kemenangan ini memperkuat posisi Erdogan sebagai pemimpin Turki yang sangat kuat. Demikian kantor berita yang dikelola negara Anadolu melaporkan Minggu (10/8).

Dengan 98,75% suara masuk yang sudah dihitung, Erdogan meraih 51,95%, disusul saingan utamanya Ekmeleddin Ihsanoglu 38,34%. Sedangkan kandidat ketiga, Selahattin Demirtas meraih 9,71%.Dengan demikian, Erdogan memenangkan Pilpres dengan satu putaran. Putaran dua yang direncanakan 24 Agustus tidak diperlukan lagi, demikian pengumuman dari KPU Turki.

Minggu (10 Agustus 2014), untuk pertama kalinya rakyat Turki memilih Presiden secara langsung. Pilpres ini diikuti tiga kandidat, Recep Tayyip Erdogan yang diusung Partai Keadilan dan Pembangunan (AK-Parti), Ekmeleddin İhsanoğlu (mantan sekjen OKI yang dicalonkan oleh partai sekuler Republic People’s Party/RPP, dan Nationalist Movement Party/NMP) dan Selahattin Demirtaş (perwakilan suku Kurdi yang merupakan ketua Peace and Democracy Party/PDP).

Sambut Kemenangan







*sumber: https://twitter.com/aa_arabic/